Buka jam 09.00 s/d jam 16.00 , Minggu libur
Beranda » Artikel Terbaru » “Buku adalah jendela dunia”.

“Buku adalah jendela dunia”.

Diposting pada 14 September 2017 oleh Neneng Keke

MEMBACA JADI JENDELA DUNIA

Kunci untuk membukanya adalah membaca. Ungkapan ini secara jelas menggambarkan manfaat membaca, yakni membuka, memperluas wawasan dan pengetahuan seseorang. Berbagai penelitian membuktikan bahwa lingkungan, terutama keluarga, merupakan faktor penting dalam proses pembentukan kebiasaan membaca.

Seperti yang kita sudah ketahui bahwa Gemar membaca tidak tumbuh begitu saja. Sebagian orang tua mencoba untuk rutin membacakan buku cerita atau mendongeng sebagai pengantar tidur anak-anak mereka.

Ada orang tua mendongeng dengan mengarang cerita mereka sendiri atau membacakan sebuah buku. Sementara orang tua membacakan cerita, anak-anak mendengarkan sambil melihat gambar-gambar yang ada dalam buku.

Dari sini petualangan imajinasi anak dimulai, bahkan cerita kadang terbawa dalam mimpi.

Bukan hanya keluarga, sekolah pun berperan penting dalam pembentukan kebiasaan membaca.

Sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, Yoshiko Shimbun, memuat tulisan tentang peran sekolah dalam membentuk kebiasaan membaca di Jepang.

Para guru mewajibkan siswa untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun dan diyakini turut mendorong perkembangan peradaban Jepang.

Survei telepon yang dilakukan Kompas pekan lalu belum sampai memotret peran sekolah tersebut, tetapi baru mencoba menangkap ada tidaknya kebiasaan membaca dalam keluarga.

Hasil survei menunjukkan, kebiasaan membaca dalam keluarga diakui ada oleh lebih dari 80 persen responden. Umumnya mereka menyediakan waktu membaca setidaknya 30 menit per hari.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan karena responden jajak pendapat didominasi kelompok usia 50 tahun ke atas, yang notabene baru mengenal gawai dan internet di usia dewasa.

Bahan bacaan yang umum dipilih adalah surat kabar. Sementara internet menduduki posisi kedua sebagai sumber informasi (bahan bacaan).

Sebaliknya, satu dari lima responden menyatakan tidak memiliki kebiasaan membaca dalam keluarga mereka.

Sebagian besar dari mereka (66,7 persen) mengaku bahwa keluarga mereka terbiasa melakukan kegiatan yang bersifat kumpul kerabat. Bentuk yang banyak dipilih adalah makan bersama keluarga dan biasanya dilakukan di luar rumah.

Manfaat membaca Buku

Berbagai penelitian memperlihatkan kebiasaan membaca bacaan bermutu berkontribusi terhadap tingkat kecerdasan seseorang. Dengan membaca, seseorang terbantu untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan menganggapnya sebagai tantangan yang harus diselesaikan.

Ada banyak manfaat membaca, di antaranya membantu pengembangan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan, meningkatkan memori dan pemahaman.

Dengan sering membaca, seseorang mengembangkan kemampuan untuk memproses ilmu pengetahuan, mempelajari berbagai disiplin ilmu, dan menerapkan dalam hidup.

Gemar membaca juga dapat melindungi otak dari penyakit alzheimer, mengurangi stres, mendorong pikiran positif. Membaca memberikan jenis latihan yang berbeda bagi otak dibandingkan dengan menonton TV atau mendengarkan radio. Kebiasaan membaca melatih otak untuk berpikir dan berkonsentrasi.

Sekalipun banyak manfaat diperoleh dari kebiasaan membaca, tetapi banyak warga Indonesia cenderung menghabiskan waktu di depan pesawat televisi.

Minat baca rendah

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012, tercatat sembilan dari sepuluh penduduk berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Sebaliknya, hanya 3 dari 20 warga yang menyukai membaca surat kabar, buku, dan majalah.

Jika dilihat dari rasio pembaca surat kabar, konsumsi satu surat kabar di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN. Jika di Filipina satu surat kabar dibaca 30 orang, di Indonesia satu surat kabar menjadi konsumsi bagi 45 orang. Idealnya, satu surat kabar dibaca 10 orang.

Tak hanya itu, setiap siswa sekolah menengah di beberapa negara maju wajib menamatkan buku bacaan dengan jumlah tertentu sebelum mereka lulus sekolah. Taufiq Ismail, sastrawan nasional, pernah menyatakan bahwa

di Jerman siswa wajib menamatkan 22-32 judul buku (1966-1975), Jepang 15 judul buku (1969-1972), Malaysia 6 judul buku (1976-1980), Singapura 6 judul buku (1982-1983), Thailand 5 judul buku (1986-1991).

Di Indonesia sejak tahun 1950-1997 terdapat nol buku atau tidak ada kewajiban bagi siswa untuk menamatkan satu judul buku pun. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.

Survei Kompas hanya memotret lingkup kecil masyarakat (perkotaan) di Indonesia dalam hal kebiasaan membaca. Namun, semua hasil pengamatan menunjukkan, kebiasaan membaca merupakan hasil pembentukan.

Keluarga dan sekolah atau lingkungan di mana anak berada berperan penting dalam pembentukan kebiasaan membaca. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah beberapa negara di bidang pendidikan dirancang untuk mendukung pembentukan tersebut dengan melibatkan sekolah dan warga masyarakat (keluarga).

 

 

Sumber : (Litbang Kompas)

Bagikan informasi tentang “Buku adalah jendela dunia”. kepada teman atau kerabat Anda.

“Buku adalah jendela dunia”. | jualbukuislamdepok.com

Belum ada komentar untuk “Buku adalah jendela dunia”.

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Temukan Kami
November 2018
M T W T F S S
« Sep    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
chat via WA
Sidebar Kiri
Kontak
Cart
Sidebar Kanan